Membangun Organisasi Digital, Gojek Dinilai Jadi Contoh Keberhasilan Transformasi Berbasis SDM dan Budaya Kerja

Zulfan Ad

Riau509 Dilihat
banner 468x60

ARIECYBER|PEKANBARU – Transformasi digital tidak cukup hanya diwujudkan melalui penggunaan teknologi atau pengembangan aplikasi. Keberhasilan sebuah organisasi dalam menghadapi era digital sangat ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia (SDM), budaya kerja yang adaptif, serta kepemimpinan yang mampu mengelola perubahan secara efektif.

Pandangan tersebut disampaikan dalam artikel ilmiah berjudul “Membangun Organisasi Digital, Belajar dari Gojek” yang ditulis oleh Eka Syahputra, Khoirul Fahmi, dan Rahmat Septia Putra di bawah bimbingan dosen Nurhayani Lubis, S.E., M.Si.

banner 336x280

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa masih banyak organisasi yang memaknai digitalisasi sebatas pembaruan sistem, penggunaan perangkat lunak, maupun pemanfaatan media sosial. Padahal, transformasi digital merupakan perubahan menyeluruh yang mencakup pola pikir, budaya organisasi, sistem kerja, kualitas kepemimpinan, hingga peningkatan kompetensi SDM.

Sebagai contoh, penulis menyoroti keberhasilan “Gojek” (https://reference-url-citation.invalid/0) dalam membangun transformasi digital secara komprehensif. Perusahaan yang berawal dari layanan pemesanan ojek melalui call center tersebut berkembang menjadi platform digital yang menyediakan berbagai layanan, mulai dari transportasi, pengantaran makanan, logistik, hingga pembayaran digital.

Menurut penulis, keberhasilan tersebut tidak hanya didorong oleh inovasi teknologi, tetapi juga kemampuan organisasi dalam beradaptasi terhadap perubahan, membangun budaya belajar, serta memperkuat kolaborasi di seluruh elemen organisasi.

Artikel tersebut menekankan bahwa investasi pada pengembangan kompetensi SDM menjadi faktor penting dalam menghadapi era digital. Organisasi perlu membekali pegawai dengan kemampuan baru, membangun budaya kerja kolaboratif, serta mendorong pengambilan keputusan berbasis data agar mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.

Selain itu, budaya organisasi yang terbuka terhadap inovasi disebut sebagai salah satu fondasi utama keberhasilan transformasi digital. Organisasi yang mampu memberikan ruang bagi kreativitas, kolaborasi, dan pembelajaran berkelanjutan dinilai lebih siap menghadapi tantangan perubahan.

Penulis juga menyoroti pentingnya membangun organisasi sebagai sebuah ekosistem yang saling terintegrasi. Dalam model bisnis digital, hubungan antara pelanggan, mitra, sistem pembayaran, data, hingga aplikasi harus berjalan secara terpadu sehingga mampu memberikan layanan yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.

Di sisi lain, tantangan transformasi digital masih banyak berasal dari dalam organisasi sendiri, seperti pola pikir yang belum berubah, budaya inovasi yang belum terbentuk, hingga digitalisasi yang hanya berorientasi pada penggunaan aplikasi tanpa disertai perubahan proses kerja.

Sementara itu, tantangan eksternal terus berkembang, mulai dari meningkatnya persaingan platform digital, percepatan inovasi teknologi, isu keamanan data, hingga perubahan regulasi. Kondisi tersebut menuntut hadirnya kepemimpinan yang adaptif dan mampu mengarahkan organisasi dalam menghadapi berbagai dinamika perubahan.

Melalui artikel tersebut, penulis menyimpulkan bahwa transformasi digital harus dipahami sebagai transformasi organisasi secara menyeluruh, bukan sekadar penerapan teknologi. Organisasi yang mampu bertahan dan berkembang di masa depan adalah organisasi yang memiliki budaya belajar yang kuat, kepemimpinan yang adaptif, sistem yang terintegrasi, serta SDM yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

 

Editor: Redaksi

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *