ARIECYBER|ROKAN HILIR – Atmosfer budaya dan religius menyelimuti Kota Bagansiapiapi saat ribuan masyarakat Tionghoa, wisatawan domestik, hingga pengunjung dari berbagai daerah memadati pusat kota untuk mengikuti prosesi Sembahyang Dewa Langit (Chia Thi) dan Arak-Arakan Replika Kapal Tongkang dalam rangkaian Festival Bakar Tongkang Tahun 2026, Selasa (30/6/2026).
Tradisi yang telah menjadi ikon budaya sekaligus kebanggaan masyarakat Kabupaten Rokan Hilir tersebut berlangsung meriah, khidmat, dan penuh antusiasme. Di tengah membludaknya jumlah pengunjung, seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan aman, tertib, dan kondusif berkat pengamanan terpadu yang melibatkan ratusan personel gabungan dari berbagai unsur.
Prosesi diawali dengan pelaksanaan Sembahyang Dewa Langit (Chia Thi) di Klenteng Ing Hok King yang berlokasi di Jalan Kelenteng, Kelurahan Bagan Kota, Kecamatan Bangko. Setelah ritual keagamaan selesai dilaksanakan, replika kapal tongkang kemudian diarak melewati sejumlah ruas jalan utama Kota Bagansiapiapi sebelum kembali menuju Klenteng Ing Hok King sebagai titik akhir kegiatan.
Festival yang setiap tahunnya menjadi magnet wisata ini turut dihadiri berbagai tokoh nasional, pejabat TNI, tokoh masyarakat, pengurus yayasan, serta komunitas Tionghoa dari berbagai daerah. Kehadiran para tamu undangan semakin menambah semarak pelaksanaan tradisi yang telah dikenal luas hingga mancanegara tersebut.
Untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, sebanyak 488 personel gabungan diterjunkan ke lapangan. Kekuatan pengamanan terdiri dari personel Polres Rokan Hilir, Polsek jajaran, Sat Brimob Polda Riau, Dit Samapta Polda Riau, TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan, hingga Dinas Pemadam Kebakaran.
Petugas ditempatkan di berbagai titik strategis, mulai dari kawasan klenteng, sepanjang rute arak-arakan, pusat keramaian, persimpangan jalan, hingga lokasi yang dinilai memiliki potensi kerawanan. Langkah tersebut dilakukan guna memberikan rasa aman kepada seluruh peserta, masyarakat, dan wisatawan yang hadir.
Selain pengamanan terbuka dan tertutup, aparat juga mengintensifkan patroli preventif untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Fokus pengawasan mencakup pencegahan tindak kriminalitas seperti pencopetan, penjambretan, curas, curat, curanmor (C3), serta gangguan kamtibmas lainnya yang berpotensi muncul di tengah tingginya aktivitas masyarakat.
Tidak hanya itu, petugas turut memberikan edukasi dan imbauan kepada masyarakat agar menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung, menghormati jalannya prosesi ibadah, serta menjauhi penyalahgunaan narkoba maupun konsumsi minuman keras yang dapat mengganggu jalannya acara.
Di sektor lalu lintas, rekayasa arus kendaraan dilakukan secara maksimal untuk mengurai kepadatan yang terjadi akibat meningkatnya mobilitas masyarakat. Pengaturan yang terukur dan responsif terbukti mampu menjaga kelancaran arus kendaraan tanpa menimbulkan kemacetan yang signifikan.
Keberhasilan pengamanan Festival Bakar Tongkang 2026 menjadi bukti nyata kuatnya sinergitas antara Polri, TNI, pemerintah daerah, panitia penyelenggara, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen yang terlibat. Koordinasi yang terbangun sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan berhasil mengantisipasi berbagai potensi kerawanan sehingga kegiatan dapat berlangsung sesuai harapan.
Lebih dari sekadar agenda budaya dan keagamaan, Festival Bakar Tongkang memiliki nilai strategis dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata daerah. Ribuan wisatawan yang datang dari berbagai wilayah bahkan luar negeri menjadi bukti bahwa warisan budaya masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi masih memiliki daya tarik yang kuat dan terus menjadi salah satu ikon wisata budaya terbesar di Indonesia.
Dengan pendekatan pengamanan yang humanis, profesional, dan terukur, aparat keamanan berhasil menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta maupun pengunjung. Hingga berakhirnya kegiatan pada pukul 18.00 WIB, situasi terpantau aman, tertib, lancar, serta tidak ditemukan adanya insiden menonjol.
Keberhasilan tersebut sekaligus mempertegas komitmen bersama dalam menjaga kelestarian budaya, memperkuat nilai toleransi antarumat beragama, serta mengukuhkan Kabupaten Rokan Hilir sebagai destinasi wisata budaya unggulan yang terus menjadi kebanggaan Provinsi Riau dan Indonesia.














